MATALENSAINDONESIA, Lampung Barat — Ribuan ikan mati di danau dalam kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Suoh, Kabupaten Lampung Barat pada Rabu (10/9/2025).
“Kenapa ini, ikan-ikannya pada mabok atau gimana?” tanya penggiat konservasi Nani Dari Watala Lampung. Seperti biasa, belum ada informasi tentang kejadian ini dari pihak kompeten.
“Alhamdullilah temen-temen oleh menih ki (dapat lagi),” ujar Fai, ibu rumah tangga setempat yang membagikannya ke tetangga. Wahdi dari Mitra Adiyaksa ikut bertanya:rezeki atau fenomena dari Danau Lebar Suoh?
Para laki-laki setempat yang mengambil berkarung-karung ikan tersebut. Mereka memasang beberapa perangkap ikan di tepi danau dan rawa-rawa sekitarnya. ”
Warga dekat kawasan tersebut memanen ikan yang dinamakan warga setempat ikan palau atau nilem nama latinnya Osteochillus vittatus. Di daerah lain, ikan dari famili Cyprinidae yang tersebar di perairan Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
Ikan ini merupakan salah satu komoditi budidaya air tawar terutama dari Pulau Jawa. Warga setempat menganggapnya rezeki dari langit. “Alhamdullilah temen-temen oleh menih ki (dapat lagi),” ujar Fai, ibu rumah tangga setempat yang membagikannya ke tetangga.
DANAU SUOH
Danau Suoh yang berada di balik lebatnya hutan TNBBS menyimpan kisah ekologi, geologi, dan konservasi yang jarang diketahui publik. Ada empat danau dengan empat karakter
Danau Suoh bukan sekadar satu genangan air, melainkan gugusan empat danau dengan keunikan masing-masing.
Danau Asam memikat dengan kejernihan airnya yang mengandung kadar asam tinggi.
Danau Minyak menampilkan permukaan yang seakan dilapisi minyak, akibat kandungan mineral alami.
Danau Lebar, yang paling luas, menjadi pusat bentangan air biru di tengah rimba.
Danau Belibis menjadi rumah bagi kawanan burung belibis, menjadikannya surga bagi pecinta birdwatching.
Di sekelilingnya, hamparan padang rumput dan perbukitan hijau menghadirkan pemandangan yang menenangkan, kontras dengan hiruk pikuk kota.
Jejak Panas Bumi dan Kehidupan Liar
Tak jauh dari danau, ada kawah Nirwana, Kawah Menir, hingga Kawah Hujan memperlihatkan aktivitas panas bumi yang masih hidup di perut bumi Suoh. Bau belerang, tanah yang mengepulkan asap, hingga kubangan mendidih, menjadi bukti betapa dinamisnya kawasan ini.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Suoh juga berperan penting dalam konservasi. Kawasan ini adalah koridor pergerakan gajah sumatera, harimau sumatera, hingga tapir, satwa-satwa endemik yang kini kian terdesak ruang hidupnya.
Antara Pesona dan Ancaman
Meski memikat, Danau Suoh dan TNBBS tidak lepas dari ancaman. Perambahan hutan, pembukaan lahan perkebunan, hingga konflik satwa dengan manusia menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa pengelolaan yang bijak, pesona ini bisa pudar dan ekosistemnya terancam rusak.
Menuju Ekowisata Berkelanjutan
Pemerintah dan pengelola TNBBS tengah mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Suoh. Konsep ini bukan hanya memberi ruang bagi wisatawan menikmati keindahan alam, tetapi juga melibatkan warga lokal dalam menjaga sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan konservasi.
“Suoh bukan hanya indah, tapi juga berharga. Ia adalah mutiara di jantung Bukit Barisan Selatan yang harus dijaga bersama,” ujar seorang pegiat lingkungan di Lampung Barat.
Dari Kota Liwa, perjalanan menuju Suoh memakan waktu sekitar 3–4 jam. Jalan berliku dengan pemandangan perbukitan, persawahan, hingga hutan tropis, membuat setiap kilometer perjalanan seakan sebuah petualangan.
Sesampainya di lokasi, rasa lelah akan sirna, berganti dengan kekaguman pada lukisan alam yang begitu megah. Danau Suoh bukan sekadar destinasi wisata, melainkan cermin betapa alam Indonesia menyimpan kekayaan luar biasa yang menunggu untuk dikenali, dihargai, dan dijaga. (Mali )