WARTALENSAINDONESIA, Lampung – Provinsi Lampung menorehkan sejarah barunya. Wajah kawasan paling bersejarah dan ikoniknya, Lapangan Saburai Enggal kini berubah jadi Masjid Raya Lampung Al Bakrie di jantung Kota Bandarlampung, Jl. Jenderal Sudirman No.59.
Kawasan yang sebelumnya “kelam” itu kini berubah berseri-seri dengan desain masjid warna putih bersih dari kubah hingga taman yang menjadi area publik (public space) bagi masyarakat ibu kota Sang Bumi Ruwa Jurai.
Jumat (12/9/2025), mulai pukul 10.00 WIB, prosesi peresmian masjid dan dibuka untuk umum. Hadir Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, dan Alburizal Bakrie, putra Lampung yang mendanai pembangunannya.
Selain itu, tampak pula sejumlah tokoh seperti anggota DPR RI Hanan A Rozak, Mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Ketua DPRD Lampung, Ketua MUI, rektor universitas negeri dan swasta, serta sejumlah tokoh lainnya.
Masyarakat juga antusias untuk menghadiri salat jumat pertama hingga luber keluar masjid yang dibangun sejak 20 Februari 2023. Masjid yang mampu menampung hingga 12.000 jemaah ini menjadikannya masjid terbesar dan termegah di Lampung.
Ketua MUI Lampung Prof. Mukri menyampaikan dalam ceramahnya bahwa Islam dihadirkan Alloh SWT sebagai rahmatan lil alamin, rahmat atau kebaikan bagi segala alam.
Ketua Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Lampung Dr. Ir. H. Firmansyah YA, MBA., M.Bc., mengatakan masjid ini bukan sekadar landmark, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat peradaban Islam. “Masjid ini bukan hanya indah secara arsitektur, tetapi juga dapat menjadi ikon dakwah dan pembinaan umat,” katanya.
Masjid ini kelak juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi. Acara peresmian masjid ini akan berlanjut dengan pengajian akbar selama dua hari berturut-turut yang akan disiarkan secara langsung oleh TV One.
Pada hari Sabtu, 13 September 2025, pengajian akan diisi oleh Syekh Ahmad Al-Misry, AA Jufri Sahati, dan Ustad Fatih Risyad. Minggu, 14 September 2025, tausiyah akan disampaikan oleh Ustad Das’ad Latif dan KH Kholil Nafis. (Mali)












































